• Jl. maarus RT.002RW.001
  • desapengujan@gmail.com

Pulau Pengujan dan Raja Ali Haji

14 Maret 2019 Administrator Dibaca 25 Kali

Pulau Pengujan, pulau kecil di Kabupaten Bintan tak sepopuler pulau bersejarah lainnya di Provinsi Kepri, seperti Pulau Penyengat atau pun Pulau Lingga. Namun, Pulau Pengujan memiliki potensi kesejarahan dan cerita

tersendiri. Di pulau ini, Raja Ali Haji (RAH) Ibni Raja Ahmad, pujangga besar Melayu abad ke 19 banyak menghabiskan waktunya. Menulis, mengajar mengaji, bercocok tanam dan beternak. Di Pengujan juga ada Makam Panjang yang terkenal dengan istilah kuburan keramat.
***
Mengkaji Pulau Pengujan, tak lengkap kalau hanya dari segi toponimi atau sejarah nama tempat atau asal-usul saja. Sejarah Pulau Pengujan bisa dikaji dari berbagai sisi. Penulisan Pulau  Pengujan ini masuk kategori sejarah lokal (local history).
Asal usul nama Pengujan dari informasi yang dikumpulkan di lapangan ada berbagai versi. Nurdin (62), Ketua RT 02 Pengujan menceritakan, dari cerita orang-orang di kampungnya Pengujan artinya pengujian. Setiap orang yang datang ke Pengujan akan diuji ilmunya. Pengujan dianggap pulau keramat dan disana banyak tinggal orang berilmu. Versi lain menyebutkan, Pengujan artinya daerah yang suka datang hujan. Begitu orang baru datang ke Pengujan, langit di atas udara Pengujan berubah jadi mendung, seakan hujan akan datang. “Dulu katanya begitu.Setiap orang baru datang ke sini, cuaca langsung berubah seakan hujan mau datang. Daerah ini juga suka turun hujan sepanjang tahun.Mungkin karena inilah namanya Pengujan,”kata Zamzam, penambang pokcai di Pengujan.


Secara administrasi, Pulau Pengujan masuk wilayah Desa Pengujan, Kecamatan Teluk Bintan.Jumlah penduduk Desa Pengujan 1.395 jiwa. Wilayah Desa Pengujan 53,25 Km dan 4.973 Ha. Sebelah utara berbatasan dengan Desa Penaga, selatan berbatasan dengan Kota Tanjungpinang, sebelah barat berbatasan dengan Desa Tembeling dan timur berbatasan dengan Desa Tembeling. Akses menuju ke Pulau Pengujan bisa melalui jalan raya Tanjungpinang-Tanjunguban via Lintas Barat. Dari jalan raya masuk ke dalam arah Kelong Cuyong sekitar 2 km. Jalur laut bisa dari Tanjungpinang menggunakan boat atau pompong dari Pelantar 2 atau pelabuhan rakyat lain.


Dari sana menyeberang ke Pengujan menggunakan perahu rakit, istilah setempat namanya pokcai. Belum ada jembatan yang menghubungkan antara daerah Kelong Cuyong ke Pulau Pengujan.

 

Penyeberangan dengan pokcai lamanya hanya lima menit. Biaya pokcai juga lumayan murah. Membawa mobil, biaya pulang pergi (PP) Rp60 ribu, itu termasuk biaya penumpang. Kalau sepeda motor biayanya PP Rp10ribu. Kalau ke Pengujan harus membawa transportasi sepeda motor atau mobil karena disana tak ada sarana transportasi umum, seperti ojek atau motor sewa.


Menulis dan Mengajar


Siapa yang tak kenal dengan sosok Raja Ali Haji (RAH) dengan karya-karyanya yang monumental. Pahlawan Nasional dari Pulau Penyengat itu. Tapi tak banyak yang tahu, RAH banyak menuliskan karya-karyanya itu bukan hanya di Penyengat, tapi juga di Pulau Pengujan, Bintan. Setiap akhir pekan, RAH menyepi ke Pengujan. Dalam buku Berkekalan Persahabatan: Surat-Surat Raja Ali Haji ke Von De Wall) yang ditulis Jan van der Putten dan Al Azhar hal. 25, ditulis Raja Ali Haji banyak menghabiskan waktunya di Pulau Pengujan tiap akhir pekan. Pada tahun 1860-an, terkesan perhatian Raja Ali Haji lebih banyak tercurah pada hal yang berkaitan dengan agama, pengajaran, dan menulis buku, dibanding jabatan resminya di istana. Dalam tahun-tahun terakhir surat menyuratnya dengan Von de Wall, ia semakin sering menyendiri ke Pulau Pengujan.


Jumlah murid RAH di Pulau Pengujan sebanyak 60-an orang. Murid-muridnya orang Melayu. Ia membangun sembilan pondok untuk tempat anak-anak belajar agama. Pondok itu dibangun sendiri, dindingnya kajang. Von der Wall juga sering diajaknya ke sana. Selain mengajar mengaji, ia juga menyiapkan menulis bahan untuk kamus Von de Wall di Pengujan. Anak-anak yang belajar mengaji juga tinggal di pondok-pondok itu. Anak-anak yang belajar agama berasal dari pulau-pulau sekitarnya, seperti Tembeling, Busung, Penaga hingga Penyengat.


Dalam membiayai operasional pendidikan anak-anak di Pengujan, RAH kesulitan masalah keuangan. Sebagai penasehat Yang Dipertuan Muda (YDM) bidang keagamaan dan yurisprodensi Keislaman, penghasilan RAH tak memadai untuk membiayai keluarga dan murid-muridnya. Sebagai solusi untuk mencari penghasilan tambahan, RAH bercocok tanam, memelihara ternak di Pengujan. Ia juga ikut berdagang. Von de Wall juga sangat membantunya dalam masalah keuangan. RAH mendapatkan uang dan barang dari Von de Wall karena dibantu dalam hal Bahasa Melayu. Bantuan Von de Wall meringankan beban ekonomi RAH.


Di Pengujan selain mengajar dan menulis, RAH juga kadang bermain musik mengisi waktu. Ia pandai bermain gambang dan alat itu mudah dibawanya dari Penyengat ke Pengujan saat akhir pekan. RAH pernah meminta dicarikan sebuah gambang besi, atau tembaga, atau sejenis kromong dari logam di Betawi kepada Von de Wall. Ia tertarik pula memiliki alat musik itu setelah mendengar Von Wall baru membelinya di Betawi. Perhatian dan minat Raja Ali Haji akan musik tak terlepas dari pengalamannya selama mengikuti rombongan kunjungan kehormatan ayahandanya, Raja Ahmad Engku Haji Tua, sebagai wakil Kerajaan Riau-Linga kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bandar Betawi Darul-Masyhur pada tahun 1822.


Sayangnya upaya mencari jejak peninggalan RAH di Pulau Pengujan saat ini sangat sulit. Tak terlihat lagi sisa-sisa peninggalannya. Nurdin, tokoh masyarakat Pengujan menyebutkan, saat ia kecil di daerah kawasan Makam Panjang ada bekas peninggalan bangunan lama. Ia menyebutkan, bangunan lama khas Melayu itu tinggal tiang dan dinding saja.


Di sekeliling sisa bangunan ada kebun kelapa yang luas.Kawasan itu disebutnya milik keluarga raja-raja dari Penyengat. ”Saya orang Pengujan, tapi dulu sekolah tingkat SR di Penyengat tahun 1962. Jadi hafal keluarga raja dari Penyengat sering ke Pengujan. Mereka punya tanah dan kebun kelapa,” kata Nurdin yang telah 17 tahun menjabat Ketua RT di sana.


Apakah tanah dan kebun kelapa di sana milik keturunan dari Raja Ali Haji, Nurdin mengaku tak hafal silsilah keturunan pujangga Melayu itu. Ia menyebutkan, tanah di sana milik keluarga orang tua Raja Malik dari Penyengat. Jika dihubungkan cerita ini, dapat diambil kesimpulan penjelasan Nurdin itu benar adanya. Pasalnya, Raja Malik anak dari Raja Hamzah Yunus memang keturunan langsung Raja Ali Haji. Saat ditelusuri ke kawasan sekitar makam, tak terlihat lagi kebun kelapa yang luas. Tak terlihat lagi bekas-bekas  bangunan, apakah pondasi atau tiang. Hanya hamparan semak dan rumput yang kondisi tanahnya datar di tepi pantai.


Makam Panjang


Pulau Pengujan paling dikenal karena di sana ada Makam Panjang. Letaknya di tepi pantai yang berjarak sekitar 2 km dari pusat pemukiman warga. Jalan menuju ke sana masuk dari pemukiman penduduk menuju ke kantor Desa Pengujan. Dari sana dapat dilanjutkan pakai sepeda motor atau jalan kaki.

 

Diujung jalan yang ada paving blok, jalan menuju makam kondisinya semak-semak. Berpasir dan becek kalau musim hujan. Tak ada penunjuk plang makam sehingga cukup menyulitkan mencari lokasi bagi orang yang pertama kali datang ke sana. Di daerah itu banyak kolong atau kolam bekas galian penambangan pasir tempo dulu.


Makam dengan panjang 8,5 meter itu tampak dikelilingi tembok yang tertulis nama T Mashad. Makam ini terletak di bibir pantai. Di kawasan makam itu, banyak makam lain tapi kondisinya masih baru.

 

Daerah ini menjadi tempat pekuburan umum warga Pengujan. Makam Tuanku Mashad juga  menghadap ke arah kota Tanjungpinang. Dari pantai dan makam ini, terlihat rumah mantan Walikota Tanjungpinang, Suryatati A Manan di perbukitan Senggarang. Terlihat juga dari sana Tanjungsebauk, Tembeling
Menurut cerita dari masyarakat setempat,  makam tersebut adalah sepeninggalan dari Kesultanan Riau Lingga dan ada hubunganya dengan Penyengat. Namun, ada juga versi lain menyebutkan T Mashad itu bernama Tuanku Mashad, ulama yang menyebarkan Islam di Bintan dan sebelumnya tinggal di Penyengat. Terlepas dari berbagai versi tentang keberadaan makam, namun makam tersebut sejak lama dianggap warga keramat.  Setiap 1 Muharam, warga Penghujan selalu menganti bendera di makam. Ada tiga tiang untuk pemasangan bendera. Namun, warga Penghujan berkeyakinan memasang bendera itu hanya untuk menghormati tokoh yang disemayamkan di dalam makam itu.


Pada masa Raja Ali Haji sering ke Pengujan, Makam Panjang itu sudah ada. Dalam surat-surat RAH ke Von de Wall dituliskan, di Pengujan ada kuburan keramat. Makam itu ramai dikunjungi peziarah pada hari besar Islam. Bukan hanya orang Pengujan, masyakat dari daerah lain banyak berdatangan untuk berziarah ke sana. Sampai sekarang tradisi berziarah ke makam ini tetap berlangsung.


Sayangnya, pemerintah daerah maupun perangkat Desa Pengujan belum melihat potensi wisata sejarah keberadaan Makam Panjang ini. Makam memang kondisinya terawat namun jalan menuju ke lokasi tak diperbaiki dan tak ada petunjuk lokasi. Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar juga belum memperhatikan makam ini. Hal ini terbukti di lokasi belum ada satu plang cagar budaya, termasuk dari BPCB Batusangkar.


Selain potensi wisata sejarah, pada masa lampau Pulau Pengujan juga dikenal sebagai daerah penambangan pasir darat di Kabupaten Bintan yang dulunya bernama Kabupaten Kepri. Hasil pasir diekspor ke Singapura. Pada awal tahun 1970-an di daerah ini beroperasi PT Selcon yang menambang pasir. Setelah itu, sekitar tahun 1985 ada lagi perusahaan lain yang menambang pasir di sana. Saat ini bekas penambangan pasir masih terlihat. Banyak kolong atau kolam bekas penambangan pasir yang kini dapat dijumpai di sejumlah titik.


“Dulu zaman Gubernur Riau dijabat Soeripto, daerah Pulau Pengujan daerah penambangan pasir. Penambangan skala besar. Ekspor ke Singapura. Masyarakat di sana juga mendukung, sehingga penambangan terus berjalan. Saya pernah meliput ke sana,” kata Aloysius Aran, wartawan SCTV yang tinggal di Batam.


Hal lain yang menarik dari Pulau Pengujan adalah daerah ini juga dikenal sebagai salah satu pusat sentra kerapu Kabupaten Bintan. Di Pengujan ada Balai Benih Ikan (BBI) dibawah Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri. Kawasan ini sangat mendukung untuk pelaksanaan kegiatan budidaya karena lokasi ini juga masih relatif jauh dari sumber-sumber pencemaran yang ditimbulkan oleh aktivitas masyarakat ataupun kegiatan industri. Balai Benih Ikan Pengujan telah memiliki fasilitas untuk memproduksi benih ikan laut, Produk yang dibudidayakan antara lain ikan kerapu, bawal,kakapputih,  lele dan nila. Mayoritas masyarakat Pengujan bekerja nelayan. ***

 

oleh: Dedi Arman (Pamong Budaya Balai Pelestarian Nilai Budaya Kepri)

SUMBER : http://jembia.com/2016/07/16/pulau-pengujan-dan-raja-ali-haji/

Komentar untuk artikel ini telah ditutup.